Selasa, 30 Maret 2010

Kampus Tercinta, Memang Begitu Namanya

Oleh Riezky Andhika Pradana | Rabu, 24 Februari 2010
* * *

Gerimis sore itu tiba-tiba saja menderas menjadi hujan dan membasahi sudut sebuah gedung yang katanya kampus publisistik/ jurnalistik tertua di Indonesia. Kampus ini berdiri pada tahun 1953 di Jakarta. Sebelumnya kampus ini terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat dan sejak tahun 1981 mulai melaksanakan kegiatan akademik di gedung sendiri di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Tikungan Maut (Tikma) IISIP Jakarta

Aku memang masih sering datang ke kampus karena biasanya tiap Sabtu sore banyak kawan-kawan seangkatan yang nongkrong disana untuk sekedar ngerumpi dan bertukar cerita. Namun tak biasanya kawan-kawanku belum ada yang datang, hanya ada beberapa kawan yang duduk-duduk, kebetulan mereka memang masih terdaftar sebagai mahasiswa di sana. Hujan pun semakin deras dan tak biasanya aku merasa “mati gaya” berada di kampus. Saat itu memang kedatanganku untuk menemani sang kekasih yang sedang mengurus revisi hasil sidang skripsi yang dinyatakan lulus beberapa hari lalu.

Sudut kampus tempatku biasa nongkrong merupakan tikungan yang menghubungkan gedung belakang ke pintu gerbang yang hanya satu di kampus itu. Tembok yang berbentuk seperti bata merah biasa menjadi tempat bersandar ketika nongkrong, terkadang tembok itu juga dicorat-coret yang berisi curahan hati tentang perkuliahan atau sekedar gosip percintaan. Sudut itu biasa disebut “Tikma” yang berarti “tikungan maut”, entah sejak kapan disebut begitu, yang jelas sejak aku kuliah di sana sepuluh tahun yang lalu, kata tersebut belum akrab di telingaku. mungkin nama itu berasal dari anak-anak yang nongkrong di sanaMahasiswa yang nongkrong di “Tikma” biasanya adalah angkatan tua. Waktu pertama masuk kampus itu, aku memang agak menghindar untuk lewat sana. Budaya senioritas memang tak ada, namun wajah angkatan tua yang sangar-sangar membuat mahasiswa baru segan lewat lokasi tersebut. Para wanita yang melewati “Tikma” juga kerap ‘dirayu’ oleh mereka. Waktu pun berputar, generasi berganti, membawaku dan kawan-kawan akhirnya nongkrong di sana juga.

Hujan deras mengguyur Tikma

Hujan deras mengguyur Tikma

Hujan belum juga reda, sambil menunggu datangnya kekasih dan kawan-kawan yang biasa nongkrong, aku mengaktifkan pemutar musik di telepon genggam. Kali ini kebetulan lagu “A Rainy Night In Soho” milik The Pogues yang terdengar di telinga. Pada bagian lirik “We watched our friends grow up together, And we saw them as they fell, Some of them fell into Heaven, Some of them fell into Hell”, sekilas khayalanku berputar balik ke sepuluh tahun silam sejak pertamaku menginjakkan kaki di kampus tersebut. Banyak sudah kawan-kawan yang kini tumbuh sukses di bidangnya masing-masing. Rata-rata alumni maupun yang tak pernah lulus dari kampus tersebut berprofesi sebagai wartawan di berbagai media massa, namun ada juga yang kini menjabat di Parlemen, menjadi artis Ibukota, menjelma menjadi seniman, bahkan ada yang menjadi guru ngaji TPA (Taman Pedidikan Al-Qur’an) di kampungnya atau sekedar menjadi pengangguran banyak acara sepertiku. Memang banyak orang sukses yang pernah kuliah di kampus tersebut. Iwan Fals, penyanyi folk yang memiliki banyak penggemar fanatik pun pernah tercatat sebagai mahasiswa Kampus Tercinta.

Tikma

Aku bersama kawan-kawan yang kini sudah meniti karir masing-masing

Entah karena pertimbangan apa, pihak kampus seringkali memamerkan wajah-wajah orang terkenal yang katanya “alumni” di banner besar gerbang kampus. Apakah jurusan publisistik/ jurnalistik sudah kehilangan daya tarik sehingga perlu ditopang oleh ikon-ikon tersebut. Kucoba membayangkan apabila Universitas Indonesia di Depok atau Institut Kesenian Jakarta memajang wajah alumninya yang terkenal di banner sebesar tiga kali badan gajah, pasti mereka cukup sibuk untuk menyeleksinya.

Banner berisi foto para alumni Kampus Tercinta

Banner berisi foto para alumni Kampus Tercinta yang terkenal di masyarakat

Ketika lulus SMU, aku memang tidak mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Walaupun guru pembimbingku mempromosikanku untuk masuk ke salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negeri) jurusan seni rupa di Jakarta, namun pilihanku tertuju pada beberapa kampus seni rupa di Bandung dan Yogyakarta, selain itu aku juga mendaftar di salah satu kampus jurusan sinema di Jakarta. Sewaktu SMU, aku memang bekerja sebagai karikaturis di salah satu tabloid remaja Ibukota. Redakturnya saat itu menyarankan agar aku mendaftar jurusan jurnalistik di STP (Sekolah TInggi Publisistik) Lenteng Agung. Setelah diselidiki, ternyata sejak 1985 dengan SK Mendikbud No. 0333/O/1985, bentuk Sekolah Tinggi Publisistik (STP) dikembangkan menjadi Institut dengan nama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Dengan mengendarai sepeda motor dan ditemani karibku di SMU, aku mencari kampus yang katanya biasa mencetak para wartawan handal itu. Tak terlalu sulit memang mencari kampus itu, walau tembok depannya ditutupi pepohonan yang lebat namun masyarakat sekitar semua tahu letak keberadaannya.

Gerbang Kampus

Gerbang Kampus IISIP Jakarta

Melihat gerbangnya, sekilas tampak seperti pabrik di mana banyak buruh di dalamnya yang bergejolak menuntut kenaikan upah. Ketika berdiri di jendela ruang administrasi yang kala itu diteralis besi, petugasnya berkata bahwa pendaftaran akan segera ditutup tiga hari lagi. Akhirnya niat sekedar mengambil brosur terpaksa bergeser dengan mambayar uang pendaftaran mahasiswa baru sebesar Rp. 75.000,-. Uang disaku saat itu hanya berjumlah Rp 50.000,- dan karibku menambal sisanya. Beberapa minggu setelah menjalani tes penerimaan mahasiswa baru, aku dinyatakan lulus. Di kampus lain yang juga sudah terdaftar namaku di dalamnya sebagai calon mahasiswa baru, harus kutinggalkan. Karena alasan biaya masuk yang terjangkau dan masih bisa bekerja di tabloid remaja Ibukota, aku memilih IISIP sebagai tempat melanjutkan pendidikanku.

Di hari pertama kuliah, aku harus benar-benar beradaptasi dengan teman-teman yang 100% belum pernah kukenal sama sekali. Duduk di bangku kuliah memang berbeda dengan SMU. Dahulu para guru di SMU selalu menegurku ketika baju dikeluarkan dan digulung lengannya. Mereka juga tak bosan selalu menegur gaya rambut dan merampas gelang, kalung yang selalu kukenakan sebagai aksesoris. Namun dibangku kuliah, para dosen tak lagi peduli dengan gaya rambut, berpakaian apalagi gaya hidup mahasiswanya. Bagi mereka yang penting hadir di kelas tanpa absen minimal tiga kali, mengerjakan tugas kuliah dan nilai yang baik saat ujian. Setelah beberapa bulan kuliah, tabloid tempatku bekerja terpaksa gulung tikar, entah karena persaingan media memang ketat atau apa, sampai saat ini aku kurang tahu penyebabnya. Peristiwa ini membuatku fokus kuliah dan lebih banyak menghabiskan waktu di Lenteng Agung.

Tikma biasa dijadikan tempat nongkrong oleh para mahasiswa  angkatan tua

Tikma biasa dijadikan tempat nongkrong oleh para mahasiswa angkatan tua

Tujuh tahun kemudian, akhirnya aku lulus juga dengan predikat biasa-biasa saja. Banyak teman beserta pengalaman manis dan pahit di kampus itu. Sejenak lirik “A Rainy Night In Soho” bertutur “I’m not singing for the future, I’m not dreaming of the past, I’m not talking of the first time, I never think about the last” menusuk telingaku. Ya, aku memang tidak ingin bermimpi dari masa lalu, aku juga tidak pernah berkhayal tentang masa depan. Tak lama kekasihku datang dengan senyuman sambil membawa setumpuk hardcover skripsinya yang sudah ditandatangani dosen pengujinya. Ia mengajakku jalan-jalan di Sabtu malam meninggalkan Kampus Tercinta. Kusebut demikian bukan karena kecintaanku yang besar dengan kampus tersebut, tetapi memang namanya demikian, Yayasan Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.


Komentar

  1. ikan koki mengatakan:

    kampus tercinta ..
    mungkin cocok namanya ..
    makasiswanya lama2 kluarnya krn “cinta” ma kampusnya .. tmasuk saya ..
    hehehe ..

  2. ajangajeng mengatakan:

    waaahhhh jadi teringat dulu saya pernah digodain juga pas lewat tikma..hahahahay

  3. abhie mengatakan:

    Beh men, like this…..
    Dulu aye sempet mau kul disana…
    Udah survei..
    tapi nggak jadi
    keburu nyangsang di jurnalistik Uin.. hahahi

    tapi di akumassa kita ditakdirkan berjumpa…

  4. andangkelana mengatakan:

    wah, kan gue bilang ga mao.

  5. diki mengatakan:

    kode batik kode…

Pameran Video akumassa: Pertama di Blora


Oleh Riezky Andhika Pradana | Pada Minggu, 29 November 2009

Setelah melalui proses kerja sebulan penuh bahkan lebih, akhirnya pameran untuk program akumassa di Randublatung–Kabupaten Blora diadakan. Acara ini bertempat di markas Anak Seribupulau di Jalan Onggososro No. 20 RT.05/RW.02 Randublatung–Kabupaten Blora. Pameran akumassa ini sekaligus memperkenalkan markas Anak Seribupulau kepada masyarakat. Pameran ini mempresentasikan sejumlah karya video yang direalisasikan oleh Anak Seribupulau bekerjasama dengan Forum Lenteng, Jakarta.

keramaian-massa-6

keramaian-massa-1

keramaian-massa-3

keramaian-massa-4

keramaian-massa-5

Presentasi hasil program akumassa kali ini berbeda dengan presentasi akumassa di kota lain sebelumnya seperti Lebak, Cirebon dan Padangpanjang, karena konsep presentasinya berupa pameran yang mengingatkan kita pada Festival OK. Video di Galeri Nasional Jakarta (Festival video di Jakarta diselenggarakan oleh ruangrupa–ed.) atau Videobase di Bentara Budaya Jakarta (program riset Forum Lenteng tentang video di Indonesia–ed.). Presentasi akumassa ini merupakan pameran video yang pertama di Blora–Jawa Tengah. Dengan tiga layar proyektor dan empat layar televisi di tiap ruangan yang dihiasi berbagai jenis lampion berhasil mengundang ratusan lebih warga yang datang tidak hanya dari Randublatung. Warga juga datang dari Desa Wulung, Pilang, Sambungwangan, Temulus, Kedung Sambi, Cepu, Kota Blora dan wilayah sekitarnya, beberapa bahkan kawan dari Yogyakarta dan Semarang juga turut meramaikan pameran ini. Tampak hadir Pak Soesilo Toer yang merupakan adik kandung Pramoedya Ananta Toer dan beberapa tokoh masyarakat. Beberapa rekan dari media massa lokal dan nasional juga meliput pameran ini.

Satu layar proyektor besar ter-display di lapangan bulutangkis yang berada persis di samping halaman Anak Seribupulau. Layar ini menyajikan seluruh kompilasi video akumassa Randublatung dan diselingi oleh beberapa performance dari Anak Seribupulau berupa pembacaan puisi oleh Abun dan Arie Pethek serta permainan musik akustik yang dibawakan oleh Yoga dan kawan-kawan sembari menyanyikan lagu-lagu bertema sosial hasil ciptaan sendiri. Sebelum acara dimulai, dihalaman ini juga ada beberapa kata sambutan dari pihak panitia, Pak Camat dan Pak Lurah yang keduanya sangat menghargai penyelenggaraan kegiatan ini.

Bapak Sri Handoko selaku Camat memberikan kata sambutan
Bapak Sri Handoko selaku Camat memberikan kata sambutan
Bapak Soesilo Toer sedang mengisi buku tamu
Bapak Soesilo Toer sedang mengisi buku tamu
Camat, Lurah dan beberapa tokoh masyarakat
Camat, Lurah dan beberapa tokoh masyarakat

Didalam ruang pamer terdapat dua layar proyektor, yang pertama berada di ruang depan menyajikan beberapa kompilasi karya video. Diantaranya Harapan Keduabelas, video ini membingkai penonton sepakbola yang sering disebut-sebut sebagai pemain keduabelas dalam sebuah pertandingan sepakbola dan Gunjing Kemarau yang membingkai kesulitan air pada musim kemarau. Proyektor kedua yang tertata di ruang belakang ini memutar video Hari Hari Sapi, video ini membingkai bagaimana hubungan sapi dan masyarakat. Suara sapi terus menerus “menggema” di ruangan yang bersebelahan dengan bekas kandang kambing ini. Selain itu empat layar televisi ada di tiap sudut ruangan yang menampilkan masing-masing karya yaitu Sepur Sepuran yang membingkai jalur sirkulasi masyarakat Randublatung melalui kereta kota mini yang mulai muncul di Randublatung tengah tahun 90an. Di sebuah ruangan menampilkan video Sedulur Sikep yang membingkai potret kehidupan petani tradisional melalui tutur kata dan kegiatan bertani. Video Sang Pematung yang membingkai kegiatan pematung kayu jati di Randublatung diputar bersamaan pameran beberapa karya patung dan lukisan hasil karya Anak Seribupulau di dua ruangan yang saling bersebelahan. Sedangkan di ruangan lainnya, video Obor dan Daun Jati diputar. Video ini membingkai aktivitas penjual daun jati.

Di beberapa dinding ruangan juga terpajang foto-foto, beberapa data tulisan (berupa coretan tentang bingkaian yang akan direkam yang dibuat selama workshop ini berlangsung. Terdapat dua buah komputer di ruang tengah yang mempresentasikan website www.akumassa.org, pengunjung dapat membaca atau sekedar melihat situs akumassa secara online.

Sembari menikmati hasil karya yang dipresentasikan, pengunjung juga menikmati hidangan gratis berupa kopi, teh hangat dan beberapa makanan ringan seperti pisang goreng, ketela, singkong dan kacang-kacangan.

Konsumsi ini dihibahkan dari para petani di sekitar desa yang sangat mendukung acara ini. Mereka (para petani) hanya meminta kepingan VCD film 2012 yang didapatkan oleh Anak Seribupulau dari hasil membajak di sebuah situs internet. Untuk tenda yang berada di halaman didapatkan tanpa biaya sewa hasil negosiasi “barter” dengan grup ketoprak “Wahyu Budoyo” yang meminta pementasannya bulan depan di dokumentasikan oleh Anak Seribupulau tanpa dibayar. Masalah kekuatan listrik sempat membuat kening panitia berkerut, pasalnya genset yang awalnya ingin dipinjam dari Kantor Kecamatan akhirya gagal, ternyata genset-nya sudah terpasang permanen di sana. Akhirnya panitia berhasil menyewa genset dengan harga yang sangat miring.

Beberapa pengunjung sedang mengamati karya ukir
Beberapa pengunjung sedang mengamati karya ukir

presentasi-video-sapi

keramaian-massa-7

keramaian-massa-8

keramaian-massa-9

keramaian-massa

Kemudahan di sana-sini kaena kedekatan masing-masing anggota Anak Seribupulau dengan berbagai pihak dari strata sosial masyarakat apapun mulai dari instansi pemerintahan, institusi pendidikan, kaum petani dan praktisi budaya dari berbagai daerah.

Semoga kegiatan positif seperti ini tidak berakhir pada pameran ini. Saya harap Anak Seribupulau melakukan banyak kegiatan lain hasil dari pengalaman selama program akumassa dan semoga Anak Seribupulau dapat menjadi inspirasi anak-anak muda khususnya di Randublatung dan sekitarnya.

29 November 2009

Komentar

  1. manshurzikri mengatakan:

    wah,, kapan bikin di pekanbaru ato di depok???
    wkwkwkwkwk

  2. aridina mengatakan:

    Gue kebayang, ini pasti ramai banget dan gede pengaruhnya buat mereka.
    Selamat buat tim yang ke Blora ini.
    Pengen banget liat video-videonya.
    Sapi??? Pasti gila banget, hehe

  3. kikie pea mengatakan:

    setuju dengan bung diki!!!

    kita cuma perlu 1% bakat ditambah 99% SEMANGAT agar bisa menggetarkan masyarakat bahkan merubahnya kearah yang lebih baik!!!!!

  4. diki mengatakan:

    aku percaya bahwa bakat tak bisa berbicara banyak jika tak ada SEMANGAT, namun SEMANGAT bisa berbicara banyak walau tak ada bakat. tak hanya itu, ia mampu menembus ketiadaan ekonomi, kekuasaan, dan fasilitas . . .

  5. iwan secen mengatakan:

    makacihhhhhhh…!!!!!

  6. exicrot mengatakan:

    ha ha haaa thanks kawan kawan, sayangnya cem ceman gua gak bisa datang..sompreeeeet

Dini Hari Bersama Blora Jaya Ekspress


Minggu, 1 November 2009

- Ini yang interiornya beda ama KRDI yang laen ya?

- Yang kursinya berhadap-hadapan kayak gerbong kereta biasa?!

- Cepu itu Kabupaten Blora, makanya dikasih nama Blora Jaya Ekspres…..
lagipula Stasiun Blora-nya sendiri sekarang sudah menjadi stasiun mati.

- Sayang, coba kalau Stasiun Blora masih hidup pasti tujuan akhirnya stasiun Blora.
- Pengen nyobain jadinya……..

- Sebenarnya orang-orang PT KA bisa ngerawat dengan sebaik-baiknya, tapi justru penggunanya yang gak bisa ngerawat, hasilnya ya kaca pecah dan KA jadi kotor.

- Blora jaya ekspress? Bukannya ini Pandanwangi?

- Ini KA Baru mas, jurusan Semarang - Cepu

- Mudah-mudahan awet ya!

- Keren, Mantap!

- Striping nya lebih galak kelihatannya daripada KRDI yg lain

- Relasi SMC-Cepu PP pengganti Cepu odong-odong

- Nih sepur nama baptisnya Blora Jaya. Kabarnya ada toiletnya ya? Yuk, kita coba bareng-bareng

1

Itulah beberapa komentar masyarakat mengenai Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) Blora Jaya Express jurusan Semarang-Cepu-Bojonegoro di berbagai situs. Perjalanan saya menuju Kecamatan Randublatung yang terletak di Kabupaten Blora kali ini menggunakan jasa kereta api. Tidak ada kereta api langsung dari Jakarta, maka saya menggunakan jasa Kereta Sembrani jurusan Surabaya dan turun di stasiun Cepu, kemudian balik arah lagi ke Semarang menuju Randublatung.

interior Sembrani

interior Sembrani

Kereta Sembrani

Kereta Sembrani

Sesuai kelasnya, Kereta Sembrani lumayan nyaman dengan waktu keberangkatan dan tiba sesuai dengan yang tertulis di tiket kereta yaitu berangkat pukul 18.30 WIB dan tiba pukul 04.30 WIB. Karena terlalu nyaman, Pak Farid orang yang duduk disebelah saya yang kira-kira berusia 60 tahun rela pulang pergi Cepu-Jakarta-Cepu hanya untuk melihat cucunya yang tinggal di Jakarta. Ia berangkat dari Cepu hari Kamis malam dan kembali ke Cepu Jum’at keesokan harinya di kereta dan gerbong yang sama. “kenapa nggak sampai 3 hari atau seminggu pak di Jakartanya? Tanya saya. “Wah, saya sudah biasa pulang pergi seperti ini kok!” Jawabnya datar.

6

8

4

Atas informasi dari Pak Farid juga, dini hari setibanya di Stasiun Cepu, saya langsung membeli tiket Blora Jaya Ekspress menuju Randublatung seharga Rp 15.000. Tiket Blora Jaya Ekspress dari Cepu menuju Semarang sementara dijual seharga Rp 25.000 dengan dua kali pemberangkatan, yaitu pukul 05.00 WIB dan pukul 13.00 WIB dari Cepu. Rencananya tahun 2010, harga tiket kereta yang mampu menampung 574 penumpang itu akan dinaikkan menjadi Rp 28.000.

Stasiun Cepu

Stasiun Cepu

dini hari di Cepu

dini hari di Cepu

Perjalanan dari Cepu menuju Randublatung hanya memakan waktu setengah jam. Sedangkan menuju Semarang sekitar dua jam lebih. Saya termasuk beruntung karena masih merasakan kebersihan dan kenyamanan kereta yang kebetulan baru diresmikan dan beroperasi pada 15 Oktober 2009 ini. Hampir tak terlihat sampah-sampah berserakan di pinggir rel maupun di sekitar area stasiun. Mungkin masyarakat pengguna jasa kereta ini pun menginginkan kenyamanan ini berlangsung lama. Kenyamanan jelas dirasakan jika kita membandingkan kereta Blora Jaya Ekspress dengan kereta Jabodetabek.

22

33

Seperti dikutip dari kompas.com, Kereta Blora Jaya Ekspress menambah empat KRDI yang sebelumnya telah beroperasi di Blora. Kepadatan empat rangkaian kereta yang telah beroperasi mencapai 100 persen per hari. Dengan adanya kereta tambahan, diharapkan penumpang mendapat kenyamanan lebih.

44

Stasiun Randublatung

Stasiun Randublatung

Blora Jaya Ekspress

Blora Jaya Ekspress

66

Stasiun Randublatung

Stasiun Randublatung

Yah… Semoga saja sarana transportasi massa di negeri ini semakin membaik dan kinerja departemen pemerintahan maupun swasta yang terkait lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Riezky Andhika Pradana


Komentar

  1. RIEZKY ANDHIKA PRADANA mengatakan:

    untuk bapak Gawik Sudarsono terimakasih atas tanggapannya, saya jadi merinding membaca ingatan bapak di jaman tahun 1968 sampai 1971, ketika naik Kereta dari Randublatung ke Cepu pulang pergi untuk sekolah di SMAN Cepu.dimana zaman itu masih memakai lokomotif uap yang Hitam warnanya.

    untuk Yul terimaksih juga tanggapannya.

    Bapak Gawik dan Yul bisa menuliskan pengalamannya di situs ini, kami tunggu yaa…

    salam

  2. surbasko mengatakan:

    warnanya cerah ceria semoga penumpangnya ceria semua menghadapi hidup yang penuh tantangan ini yeaah.

  3. miiko mengatakan:

    wah kalo dari semarang jam berapa ya????
    moga - moga awet deh

  4. Gawik Sudarsono mengatakan:

    Semoga tetap terjaga kebersihannya kereta Blora Jaya Ekspress tersebut.

    Kalau lihat gambarnya kok nggak terlalu jauh beda dibandingkan dengan Subway di Korea maupun Jepang.

    Saya jadi teringat jaman tahun 1968 sampai 1971, saya naik Kereta dari Randublatung ke Cepu pulang pergi untuk sekolah di SMAN Cepu.
    Jaman itu masih dipakai lokomotif uap yang Hitam warnanya

  5. yul mengatakan:

    aku jadi teringat masa kecilku… di stasiun randublatung
    disinilah setiap hari aku berkeliaran. hapal betul setiap sudut areal stasiun mulai pintu masuk sebelah barat hingga sinyal masuk kereta sebelah timur.. disamping kiri kanan ada kantor dan perumahan perhutani.
    didepan stasiun/tepat berhadapan dengan penggergajian kayu,aku pernah tinggal disitu… 35 tahun yg lalu
    kenangan yg indah..
    terima kasih atas dimuatnya photo stasiun randublatung sehingga saya bisa mereview masa lalu

  6. rangga mengatakan:

    keren…

  7. raskikie I mengatakan:

    sing penting tertib… ojo jotos jotosan!!!

  8. sri hartatie mengatakan:

    harapan semoga tetap terjaga kebersihannya…. bravo perkereta apian…