UNTIRTA TV yang diresmikan pada 19 Februari 2009 bekerjasama dengan Saidjahforum, mengadakan pemutaran video akumassa di halaman gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, salah satu universitas negeri di propinsi Banten. Pemutaran video ini menampilkan 4 karya akumassa, yaitu Tepian Sungai Ciujung (Lebak-Banten), Negosiasi Atas Air (Cirebon-Jawa Barat), Dengar, Dongeng Pos Ronda (Lenteng Agung-Jakarta Selatan), dan Anjing Vs Babi (Padang Panjang-Sumatera Barat). Pemutaran berlangsung selama 1 jam, dimulai pada pukul 19.00 WIB, dilanjutkan dengan diskusi hingga pukul 21.20 WIB.
Sebuah layar proyeksi terpancang di halaman studio mini UNTIRTA TV dengan saluran 14 UHF. Acara pemutaran ini disiarkan secara langsung oleh stasiun UNTIRTA TV. Penonton mulai berdatangan selepas maghrib hingga pukul 19.00 WIB, diperkirakan mencapai 100 orang yang terdiri dari mahasiswa/mahasiswi dan masyarakat setempat.
Beruntung cuaca sangat cerah malam itu, dikarenakan cuaca saat ini yang sedang tidak menentu. Bajigur dan cilok (jajanan berbentuk seperti bakso dengan bahan dasar tepung sagu) gratis disediakan oleh panitia malam itu, sebagai pendamping penonton menikmati tayangan video. Acara dibuka dengan penampilan grup musik AKTIVA, yang memainkan lagu Sempurna dari Andra And The Backbone. Penonton mulai berkumpul di halaman studio untuk mulai menyaksikan acara yang dibuka dengan pemandu acara dari UNTIRTA TV.
Setelah pemutaran, panitia mengadakan diskusi untuk membahas video akumassa. Tampil sebagai pembicara Fuad Fauji (presiden Saidjahforum, akumassa Lebak, dan alumnus angkatan pertama FIKOM UNTIRTA 2002), lalu Gelar Agryano Soemantri (akumassa Lenteng Agung), dan Riezky Andhika Pradana (akumassa Padangpanjang dan Cirebon) yang keduanya adalah anggota Forum Lenteng. Karena sebagian besar peserta diskusi adalah mahasiswa/mahasiswi jurusan Komunikasi yang berminat pada broadcasting, maka pertanyaan-pertanyaan peserta beragam, mulai dari idealisme, teknis pembuatan sampai pendistribusian.
Sebelum acara ditutup dengan hiburan musik, panitia memberikan piagam penghargaan kepada Otty Widasari sebagai koordinator program akumassa dan Fuad Fauji sebagai alumnus berprestasi yang peduli pada pemberdayaan intelektualitas kampus.
Oleh Riezky Andhika Pradana Pada Senin, 16 November 2009
Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh semua orang, dari yang muda hingga yang tua. Musik juga menjadi media pelepasan hasrat bagi yang dilanda kasmaran maupun yang sedang patah hati. Selain berfungsi sebagai penghibur orang yang sedang dirundung kesedihan. Musik juga bisa dijadikan media apresiasi, ekspresi, kreasi bahkan menjadi media dalam menjalin tali silaturrahim antar individu, kelompok dan masyarakat.
anak-anak punk Blora
Menurut “Musik Dahaga Jiwa”nya Kahlil Gibran: Alunan nada nada musik adalah senandung lembut yang kerap hadir di lemba- lembah imajinasi. Jika nad- nada itu d lantunkan dalam melodi kesedihan, maka ia menghadirkan kenangan silam disaat gundah dan putus asa. Tapi jika dilantunkan pada saat hati senang, maka musik menghadirkan kenangan silam d saat damai dan bahagia, dan seterusnya…
Tradisi Cina mengatakan bahwa musik adalah nenek moyang pengobatan. Tujuan utama musik dalam Tiongkok kuno adalah untuk menyembuhkan orang-orang dari penyakit. Di sisi yang lain ada juga yang menjadikan musik sebagai alat politik. Tapi buat saya bermain musik adalah media untuk memuaskan hawa nafsu, baik itu nafsu amarah maupun nafsu birahi. Saya tidak pernah bermimpi punya cita-cita menjadi pemusik apalagi menjadi seleberiti dadakan seperti yang bermunculan setiap pagi di stasiun tv. Disela-sela workshop akumassa di berbagai kota, ritual menyewa studio rental untuk sekedar relaksasi ditengah-tengah jadwal yang padat memang sangat menyenangkan. Ritual ini dilakukan malam hari, bahkan tengah malam. Sewaktu di Padangpanjang, saya dan partisipan workshop disana rela berjalan sekitar dua kilometer lebih ditengah malam melewati persawahan, sungai dan hutan bambu untuk menuju studio musik sewaan.
Ketika workshop akumassa di Randublatung, kami pun melakukannya. Kota ini mungkin kurang diperhitungkan dalam kancah industri musik nasional, namun beberapa grup musik dari sini juga cukup dilirik oleh komunitas underground, khususnya komunitas punk. Para partisipan disini mayoritas menggemari musik ‘cepat’ seperti yang diusung oleh Marjinal, Bunga Hitam, Keparat dari scene lokal dan The Exploited, The Sex Pistols, Rancid dari mancanegara.
Kebetulan saya juga menggandrungi jenis musik bertempo cepat ini. Semasa duduk dibangku sekolah menengah pertama, saya dan kawan-kawan berburu dan membajak kaset/cd punk. Hanya beberapa yang original, terutama album-album keluaran Epitaph Record seperti Bad Religion, selebihnya seperti Dead Kennedys, The Misfits, The Ramones dan sebagainya harus puas dengan versi bajakannya.
Di Randublatung saat ini hanya ada dua studio rental yaitu Pink Studio dan Illusion Studio. Sebelumnya ada empat, namun akibat perekonomian yang sangat lemah, yang dua lainnya terpaksa gulung tikar. Studio pertama yang beroperasi di Randublatung bernama Mahabharata, kemudian Studio Illusion yang terletak di Desa Pilang, sebelah timur Pasar Randublatung. Yang ketiga adalah Studio Revolt yang kini telah bangkrut bersamaan dengan Studio Mahabharata.
Sesuai dengan fungsi musik menurut definisi saya, malam itu saya ingin memuaskan nafsu saya. Lalu kami ramai-ramai berangkat menuju Pink’s Studio dengan mengendarai sepeda mini dan sepeda motor. Ketika masuk ruangan studio sederhana tersebut, saya langsung mengambil bass, alat musik yang tak begitu saya kuasai (kebetulan saya memang tidak menguasai jenis alat musik apapun) tapi minimal masih mengenal kunci C, G, A minor, F dan memainkannya dengan energi yang prima, maka itu sudah cukup untuk sebuah permainan “Rock n’ Roll”. Karena kesamaan selera, tembang-tembang lawas milik The Ramones pun dengan fasih kami mainkan. Single milik The Stone Roses juga sempat kami bawakan, namun band indie pop asal Manchester yang populer di akhir tahun 80’an ini kurang digemari disini. Kebetulan chord-nya mudah, dengan sekejap Yoga (gitar) dan Didien (drum) yang merupakan musisi asli Randublatung ini dengan mudah mencerna nada yang dikeluarkan oleh betotan bass saya, sedangkan Gelar seorang partisipan lain dari Jakarta asyik bergaya seperti Ian Brown.Pengalaman bermain band memang digandrungi oleh anak-anak muda dibelahan dunia manapun.
Sutradara: Riezky Andhika Pradana Terinspirasi dari cerpen Karjan dan Kambingnya karya Hamsad Rangkuti, dalam buku Sampah Bulan Desember, Penerbit Buku KOMPAS, 2000
Sinopsis:
Pemandangan Stasiun Tanah Abang yang berseberangan dengan bongkaran dan kereta api ekonomi menyusuri gubug-gubug penghuni pinggiran rel kereta api dari pagi, siang dan malam, menjadi saksi pertemuan Karjan dan Parmin. Nostalgia mereka kemudian diwakili oleh seekor kambing yang diberikan Parmin kepada Karjan. Petualangan Karjan membawa kambingnya menyusuri masa lampau di sepanjang rel kereta api bermuara pada kesialan Karjan yang dituduh mencuri kambing.
komentar
Balada Hari Raya (18') Riezky Andhika Pradana (2008)
film ini ngasih ide2 di kepala gue.. voice over dan pengambilan gambar tanpa ada tokohnya itu bikin gue mengangguk2 sendiri (kebayang gaya ini bisa gue pergunain untuk ide cerita gue yang sederhana itu) .. sayangnya dialognya datar dan baku.. entah kenapa ini yang dipilih sebagai bahasa pengantar orang-orang yang didefinisikan sebagai orang menengah ke bawah. dan kadang-kadang gue merasa berlebihan footage gambarnya,,, (seperti sayang membuang --emang sih keren gambarnya tapi tidak untuk apa dimasukkan kalau tidak menambah makna) oh ya, pas adegan terakhir, kenapa kambingnya jadi ilang dan ndak ada sih? kemana benda itu ... mmmm... tp tetep gue salut sama ide vo-nya :)
Rangka kerja CERPEN UNTUK FILEM merupakan salah satu kegiatan rangka kerja yang menjadi bagian dari program kajian Forum Lenteng tentang persoalan sosial dan budaya di Indonesia melalui karya sastra Indonesia, melalui bahasa ‘audiovisual’ yang menjadi salah satu upaya pendekatannya.
Berawal dari ‘bagaimana merepresentasikan teks-teks karya cerpen Indonesia menjadi bahasa audiovisual, film’. Rangka kerja yang berlangsung sejak Januari-April 2008 ini mencoba menuturkan kembali persoalan-persoalan sosial dan budaya yang tercermin dalam teks-teks dalam cerpen yang dibuat pada masanya itu melalui pemaknaan atas situasi sosial dan budaya masyarakat di Indonesia sekarang ini. Dalam rangka kerja ini, karya cerpen tidak bertindak sebagai obyek adaptasi tetapi sebagai sumber inspirasi persoalan sosial dan budaya yang kemudian direpresentasikan ke dalam bentuk ‘audiovisual’ (film). Dengan menggunakan medium ini, partisipan mencoba melihat kemungkinan lain dari cara bertutur medium film dengan membangun konstruksi cerita yang terinspirasi dari cerpen.
Cerpen-cerpen yang menjadi subjek kajian dalam proyek CERPEN UNTUK FILEM adalah karya empat penulis utama di Indonesia yaitu; cerpen “Sybil” karya Umar Kayam (dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan), “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat” karya Umar Kayam (buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan), “Yorrick” karya Budi Darma (buku Orang-Orang Bloomington), “Keluarga M” karya Budi Darma (buku Orang-Orang Bloomington), “Pembotakan Terakhir” karya AA Navis (buku Robohnya Surau Kami) dan “Karjan dan Kambingnya” karya Hamsad Rangkuti (buku Sampah Bulan Desember).
Pemilihan cerpen-cerpen tersebut di atas berdasarkan tema sosial yang diangkat di dalamnya seperti; keterasingan, sejarah dan memori kolektif, dan perspektif massa dalam melihat persoalan sosial dalam individu-individu di dalamnya.
Karya
Selama empat bulan proyek CERPEN UNTUK FILEM, menghasilkan sembilan film pendek yaitu:
SUARA KOTA (14 menit) Sutradara Syaiful Anwar Terinspirasi dari cerpen Sybil karya Umar Kayam, dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, PT Pustaka Utama Grafiti, 2003
LINGKARAN X (9 menit) Sutradara Bagasworo Aryaningtyas Terinspirasi dari cerpen Yorrick karya Budi Darma, dalam buku Orang-Orang Bloomington, Metafor Intermedia Indonesia, 2004
DISKO PLASTIK (23 menit) Sutradara Gelar Agryano Soemantri & Mirza Jaka Suryana Terinspirasi dari cerpen Yorrick karya Budi Darma, dalam buku Orang-Orang Bloomington, Metafor Intermedia Indonesia, 2004
INTERIOR KACA (17 menit) Sutradara Otty Widasari Terinspirasi dari cerpen Yorrick karya Budi Darma, dalam buku Orang-Orang Bloomington, Metafor Intermedia Indonesia, 2004
MARIA (16 menit) Sutradara Fuad Fauzi Terinspirasi dari cerpen Pembotakan Terakhir karya AA Navis, dalam buku Robohnya Surau Kami, Gramedia Pustaka, cetakan 13, 2007
PEGGY KEMANA KAU SEMALAM? (14 menit) Sutradara Arissa Afridayanti R. Terinspirasi dari cerpen Secangkir Kopi dan Sepotong Donat karya Umar Kayam, dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, PT Pustaka Utama Grafitti, 2003
SECANGKIR COPY PASTE DAN CELL (19 menit) Sutradara Maulana M. Pasha Terinspirasi dari cerpen Secangkir Kopi dan Sepotong Donat karya Umar Kayam, dalam buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, PT Pustaka Utama Grafitti, 2003
M / (25 menit) Sutradara Ajeng Nurul Aini Terinspirasi dari cerpen Keluarga M karya Budi Darma, dalam buku Orang-Orang Bloomington, Metafor Intermedia Indonesia, 2004
BALADA HARI RAYA (18 menit) Sutradara Riezky Andhika Pradana Terinspirasi dari cerpen Karjan dan Kambingnya karya Hamsad Rangkuti, dalam buku Sampah Bulan Desember, Penerbit Buku KOMPAS, 2000
Oleh Anib Basatada Wicaksono & Riezky Andhika Pradana |
Jumat, 26 Maret 2010
Apakah anda mengenal Giring ‘Nidji’ atau Edi Brokoli? Ya, Keduanya memang musisi berambut kribo yang tampil eksentrik, namun yang dimaksud Duo Kribo bukanlah mereka berdua.
Neraka Jahanam
Kalau begitu, apakah anda mengenal lagu ‘Neraka Jahanam’, lagu rock lawas Indonesia yang sempat dipopulerkan kembali oleh Boomerang dan di trash-kan oleh Suckerhead. Apakah anda juga mengenal lagu ‘Dunia Panggung Sandiwara’ yang liriknya ditulis oleh Taufik Ismail, salah satu penyair mashyur Indonesia. God Bless sering membawakan lagu tersebut di setiap kali pementasan mereka. Lagu tersebut juga pernah dipopulerkan kembali oleh Grace Simon, Nicky Astria, (alm) Nike Ardilla, Ramli Syarif (rocker Singapura), hingga Sheila On 7.
“Duo Kribo”
Ya, lagu-lagu tersebut adalah milik Duo Kribo, duet maut dua musisi rock papan atas di tahun 70-an. Mereka adalah Achmad Albar dan Ucok Harahap. Kolaborasi ini muncul ketika AKA (Apotik Kali Asin), grup rock pimpinan Ucok pecah. Kebetulan Achmad Albar dengan God Bless-nya mulai sepi order manggung. Duet Duo Kribo cukup berhasil dan meledak di pasaran sampai albumnya terjual 100.000 kaset.
Keberhasilan album-album mereka didasarkan pada rasa penasaran para pecinta musik rock. Mereka ingin tahu seperti apa kalau duo superstar bersatu dalam satu album rekaman. Hasilnya adalah tiga album Duo Kribo Volume I, II dan III sepanjang tahun 1977-1978. Sebenarnya selain mereka, di tahun 1976 ada juga duo rock maut yang kebetulan juga berambut kribo. Mereka adalah sepasang sahabat, Gito Rollies dan Dedy Stanzah yang melahirkan album ‘Higher N’ Higher’ (1976) dan ‘Lepas Sensor’ (1991).
Album Duo Kribo Vol. I
Album Duo Kribo Vol. II
Album Duo Kribo Vol. III
Selain meramaikan industri musik rock saat itu, Duo Kribo juga merambah dunia perfilman Indonesia. Kesuksesan album-albumnya membuat mereka dilirik oleh Perusahaan Film Intercine untuk membuat Film Duo Kribo yang dirilis tahun 1978 dan disutradarai oleh Eduard Pesta Sirait yang menampilkan Achmad Albar, Ucok Harahap, Grace Simon, dan Eva Arnaz.
Film ini bercerita tentang kembalinya Achmad Albar setelah lulus cumlaude dari sebuah konservatori di Eropa. Dia lalu memainkan musik rock, seperti juga Ucok yang berasal dari kampung dan mengadu nasib di Jakarta untuk menggapai impiannya: penyanyi tenar dan mobil mewah. Mereka masing-masing pun menjadi tenar dan sama-sama memiliki banyak penggemar. Setelah beberapa kali terjadi persaingan, akhirnya mereka bertemu dan kemudian diduetkan oleh cukong musik di Indonesia.
Cover Film Duo Kribo
Setelah hilang selama 30 tahun, copy film ini ditemukan kembali dalam format 35 mm di Inter Studio, Jakarta. Pada 14 Maret 2010 yang lalu film ini diputar di Kineforum, Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada acara tahunan Kineforum yang bertemakan Sejarah Adalah Sekarang 4. Pada kesempatan ini Eduard Pesta Sirait selaku sutradara hadir dan memberikan kata sambutan diawal pemutaran. Ia mengaku tidak begitu menggemari musik rock dan tidak begitu suka dengan film yang digarapnya ini, namun ia tetap mengerjakannya dengan profesional. Cukup banyak penonton yang hadir, bahkan menurut pandangan mata kami, seluruh kursi terisi penuh. Pemutaran ini tidak dipungut biaya apapun. Di sepanjang pemutaran banyak sekali adegan dan dialog yang lucu, terutama lewat gaya nyentrik Ucok ‘AKA’ Harahap yang membuat para penonton tertawa.
Film ini diproduksi atas dasar sejarah musik rock Indonesia yang dahulu begitu terkenal dengan meledaknya lagu-lagu Godbless dan AKA yang akhirnya membawa perubahan style dan memberikan warna baru pada kaum muda Indonesia. Di film ini juga terbaca bahwa seniman musik dahulu masih diatur bahkan dikendalikan oleh cukong industri. Hal itu terlihat dalam adegan ketika cukong menghitung menggunakan kalkulator ketika Ucok dan grupnya hengkang dari perusahaan rekamannya dan ia mengganti dengan grup Achmad Albar.
Pemutaran selesai jam empat sore dan dilanjutkan dengan sesi diskusi tentang “Musik Rock, Film dan Anak Muda” yang di gelar di Teater Kecil TIM. Diskusi dimoderatori oleh Indra Ameng dan menghadirkan empat nara sumber yaitu Hikmat Darmawan (Kritikus Film), David Tarigan (Produser, Kolektor Musik) Denny Sakrie (Pengamat dan Kritikus Musik) dan Soleh Solihun (Jurnalis Musik- Rolling Stone).
Reuni Ucok Harahap dan Achmad Albar
Pada kesempatan ini David Tarigan banyak bercerita tentang sejarah musik di Indonesia. Sebelum musik rock terkenal dan booming-nya Godbless maupun AKA, musik era itu sudah dimulai oleh Usmar Husni yang menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan irama rock. Hal ini ia lakukan karena pada jaman pemerintahan Soekarno para musisi dilarang menyanyikan lagu barat karena dianggap propaganda Amerika dan kapitalisme.
Menurut Hikmat Darmawan, film ini dibuat mengingat pertemuan superstar musik rock pada masa itu dalam satu panggung. Idenya muncul dari salah seorang wartawan dan dijalankan di beberapa kota besar. Acaranya disponsori oleh perusahaan rekaman musik di negeri ini mengingat banyaknya keuntungan yang akan diraup. Pada diskusi ini juga ada sesi tanya jawab dan hanya sedikit peserta yang bertanya. Prima Rusdi, seorang penulis buku, penulis skenario film dan serta produser juga ikut dalam acara diskusi. Ia bertanya kepada para narasumber mengenai pengaruh stasiun pemancar radio di era tersebut dalam perkembangan musik rock di Indonesia. Denny Sakrie, salah seorang narasumber menjawab:
”Ya, saya akan menjawab pertanyaan ini berhubung saya dan Prima dulu pernah bekerja di Radio. Jaman dahulu berbeda seperti yang sekarang, industri musik rock kurang begitu dapat perhatian dari kalangan media. Hal ini dikarenakan kurangnya tanggapan masyarakat umum terhadap jenis musik ini. Karena musik ini lebih identik dengan anak muda dan perlawanan, sehingga masyarakat kurang menyukainya. Pada jaman itu, baik di media televisi maupun radio masih ada sistim seleksi penyiaran yang didampingi TNI untuk layak dipublikasikan, hanya sedikit musik rock yang dapat diputar di radio. Saat itu, dalam satu album ada dua atau beberapa lagu yang benuansa rock, selainnya hanya lagu-lagu yang seperti Kangen band atau ST 12,” jelasnya.
“Neraka Jahanam”
Semua yang ikut dalam diskusi itu pun tertawa. Tak lama kemudian disambung lagi pertanyaan dari seorang peserta diskusi “Apa bedanya antara film Duo Kribo dengan Realita, Cinta dan Rock’n Roll, dan tolong sebutkan 10 grup band rock yang masuk chart tangga lagu?” Tak lama kemudian Hikmat Darmawan mengatakan bahwa film Duo Kribo lebih bagus dari pada film Realita, Cinta dan Rock’n Roll. Kenapa? Karena menurutnya dalam film ini kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi bahwa dalam persaingan grup rock zaman dahulu untuk bisa mendapatkan gelar superstar, mereka saling sabotase dan mematikan grup musik sainganya. Dan juga bahwa grup band pada zaman dulu masih dicukongi oleh industri dan diatur agar dapat keuntungan yang lebih. Lain halnya dengan grup musik rock jaman sekarang yang mayoritas bermain untuk kesenangan pribadi. Mereka banyak yang terjun ke jalur independen. Adapun yang masuk ke dapur rekaman dan televisi biasanya hanya beberapa lagu dalam satu album seperti yang pernah dialami pendahulu musik rock. “Untuk chart 10 band rock teratas lebih baik kita bahas sendiri aja setelah acara ini ya mas,” kata Denny Sakrie. Setelah puas dengan jawaban yang diberikan, acara diskusi pun berakhirpada jam 7 malam.
Gito Rollies dan Dedy Stanzah
Tahun 2001, Duo Kribo sempat muncul mengisi acara di salah satu stasiun televisi swasta. Mereka bahkan pernah menyatakan akan rekaman lagi. Namun sayang, itu semua hanya khayalan. Pada Desember 2009 lalu Ucok ‘AKA’ Harahap, meninggal di Rumah Sakit Dharmo, Surabaya, Jawa Timur, dalam usia 70 tahun. Kanker paru-paru stadium 4 telah menggerogoti tubuhnya.
Kini Duo Kribo memang mustahil untuk beraksi. Yang tersisa hanya tiga dari enam kribo setelah Ucok ‘AKA’ Harahap, Gito Rollies dan Dedy Stanzah meninggal dunia. Kini tinggal apakah cukong industri musik kita mau menduetkan Achmad Albar dengan Edi Brokoli atau Giring ‘Nidji’? atau Giring Nidji dan Edi Brokoli diduetkan menjadi Neo Duo Kribo? Tapi kami rasa hasilnya akan basi.
Oleh Riezky Andhika Pradana | Pada Rabu, 24 Maret 2010
* * *
Untuk melakukan pemetaan komunitas film Indonesia dan mencatat keberhasilan kerja dan tantangan nyata yang dihadapinya serta memperkuat jaringan yang telah terbentuk sebelumnya, pada 17-20 Maret 2010 yang lalu, akumassa Forum Lenteng diundang untuk menghadiri Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas di Taman Budaya Surakarta, Solo – Jawa Tengah. Acara ini dihadiri oleh Komunitas-komunitas Film di Indonesia baik yang memiliki kelengkapan legal-formal, maupun tidak. Tercatat 42 Komunitas yang hadir diantaranya Mafvie-fest Malang, matakaca Solo, Oengoe Cinema, Sangkanparan, Studio gambargerak, Yayasan Konfiden, Blender Indonesia, Boemboe.org, Cinematography Club Fikom Unpad, CLC Purbalingga, Falling Star Picture, Kineforum DKJ, Kinoki Jogja, Forum Lenteng dan lain sebagainya.
Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas
Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas
Untuk memenuhi undangan ini, sehari sebelum acara, kami bertiga di antaranya saya, Otty Widasari dan Mahardika Yudha berangkat dari Stasiun Gambir Jakarta jam 8 malam dan tiba di Stasiun Solo Balapan jam 4.30 WIB dini hari. Setibanya di sana kami dijemput oleh panitia menuju lokasi. Cukup puas dengan istirahat selama beberapa jam, acara pun dimulai dengan pembukaan Stadium Generale ‘Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas 1998-sekarang’. Setelah itu acara dilanjutkan dengan kelas kegiatan perfilman yang terbagi tiga kelas pada waktu yang sama, berupa diskusi dan presentasi di tempat yang berbeda. Kelas tersebut di antaranya ‘Mengelola Program Pemutaran Film’, ‘Kesinambungan Festival Film & Kompetisi’ dan kelas presentasi oleh Matakaca Solo.
Program pemutaran film adalah salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh komunitas film, sebagai bagian dari program kerja mereka. Namun, seringkali ditemukan persoalan-persoalan dalam menjalankan program tersebut. Gagasan utama pembahasan di kelas ini adalah bersama-sama mengevaluasi sejauh mana program pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas film selama ini, serta persoalan yang dihadapi dan melihat kembali kebutuhan program pemutaran film berdasarkan konteks masing-masing basis kegiatan. Setelah beberapa jam berdiskusi, dibacakaan pemetaan permasalahan yang berhasil ditangkap, di antaranya adalah masalah yang cukup klasik yaitu fasilitas, sumber film, kemudian kemampuan programming yang berkaitan dengan jumlah penonton, perizinan, fasilitas, dan sebagainya. Sebenarnya banyak masalah yang muncul di luar itu, di antaranya visi komunitas, hingga akhirnya komunitas mudah sekali gulung tikar.
Pada kelas ‘Kesinambungan Festival Film & Kompetisi’ terdapat gagasan utama pembahasan, di antaranya nilai-nilai seperti apa yang membedakan antara festival dengan kompetisi, sejauh mana festival & kompetisi yang diselenggarakan selama ini telah menemukan bentuk yang ideal, kebutuhan nyata dari penyelenggaraan festival film & kompetisi dan bagaimana mempertahankan keberlanjutan penyelenggaraan festival & kompetisi.
Di hari pertama kongres, malam harinya diadakan pemutaran film Kantata Takwa yang merupakan film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008 arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa.
Pada hari ke dua, Kamis, 18 Maret 2010, sesi pertama yang dimulai pukul 09.00 – 12.00 siang terdapat Kelas Pembuatan Film yang bertema ‘Standarisasi Pengetahuan Produksi Film’ dan ‘Pemetaan Tujuan Produksi Film Non-komersil’. Di sesi ini kelas presentasi dilakukan oleh Forum Lenteng dengan ‘Proyek akumassa’nya. Pada kesempatan ini, Otty Widasari selaku redaktur jurnal akumassa memberikan presentasinya. Presentasi ini mendapat sambutan positif terlihat dari antusiasnya peserta diskusi yang mengajukan pertanyaan.
Bioskop Solo Theater Sriwedari
Bioskop Solo Theater Sriwedari
Bioskop Solo Theater Sriwedari
Jika dari petaan diskusi selama tiga hari, tampak permasalahan utama bahwa dari kebanyakan komunitas harus me-reidentifikasi lagi kesadaran mereka. Sebagai komunitas film, mereka punya satu permasalahan besar yaitu tidak tahu apa itu film secara mendasar, selain itu banyak dari arah tujuan mereka yang kurang jelas. Jika bergerak di bidang pendidikan, maka persoalan yang terangkat hanya berhenti di wilayah teknis. Jika di bidang pemberdayaan masyarakat, kapasitas materinya juga berhenti di wilayah teknis. Kebanyakan dari komunitas tersebut yang tidak memiliki penawaran ‘alternatif’ untuk fasilitas tempat program pemutaran, di samping banyaknya DVD bajakan yang sangat mudah didapat. Jika film sebagai media advokasi, kendala pun terjadi dari kurangnya media literacy atau pengetahuan tentang media itu sendiri.
Setelah presentasi akumassa timbul pertanyaan-pertanyaan ‘mendasar’ dalam diskusi. Karena ‘mungkin’ akumassa dianggap memiliki standar kelengkapan seperti kesadaran media, pengarsipan (teks, image, audio dan video), pengetahuan film, jalur distribusi alternatif, workshop, presentasi (pameran dan pemutaran publik), maka pertanyaan jadi berputar di wilayah metode kerja dan pembentukan program efektif sebuah komunitas.
Malam harinya seluruh peserta diskusi diajak berkunjung ke Solo Theater Sriwedari, sebuah gedung bioskop yang kini dikelola oleh matakaca. Di sana diadakan pemutaran hasil karya kawan-kawan dari Solo.
Bioskop Solo Theater Sriwedari
Hari ketiga, terdapat beberapa kelas yang juga terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama ada tiga kelas diskusi yaitu kelas pembuatan film: ‘Pemetaan Alat Produksi’, Kelas Organisasi: ‘Pemberdayaan Organisasi’ dan Kelas Presentasi: ‘Distribusi film’. Setelah break makan siang, pukul 13.30 – 16.30 diadakan Kelas Organisasi: ‘Penyegaran Kembali Jaringan Komunitas Film’, Kelas Diskusi: ‘Film Sekolahan VS Non Sekolahan’ dan kelas presentasi: Kajian Film IKJ. Perlu juga dicatat bahwa pada Panel: ‘Penyegaran kembali jaringan komunitas film’ terdapat gagasan utama pembahasan, di antaranya pentingnya pemetaan kekuatan jaringan komunitas, perlunya strategi bersama untuk menjaga keberlangsungan hidup sebuah komunitas, peningkatan kapasitas organisasi/komunitas dan pencapaian tujuan bersama.
Veronica Kusuma dari Klub Kajian Film IKJ (paling kanan)
Puput Kuspujiati dari Klub Kajian Film IKJ
Sabtu 20 Maret 2010 adalah hari terakhir kongres ini. Di dalam pleno akhir kongres akhirnya dibentuk KELOMPOK KERJA ‘PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN JEJARING’ yang memilih 3-5 orang anggota kelompok kerja dengan mempertimbangkan faktor keterwakilan bentuk organisasi, keterwakilan ranah kerja organisasi (produksi, distribusi, eksibisi, pendidikan, pengarsipan), keterwakilan geografis (Jawa, Sumatra, Kalimantan) dan keterwakilan gender (wanita-pria). Yang terpilih adalah Dimas Jayasrana, Lulu Ratna (Boemboe.org), Pandu A. (Atma Jaya Jogja), Veronica Kusuma (Klub Kajian IKJ) dan Darma Lubis (SOI Medan). Semoga saja dengan diadakannya kongres ini dan terpilinhnya nama-nama tersebut, jaringan kerja perfilman berbasis komunitas mampu menjadikan perfilman kita menjadi lebih berbobot dan mendidik di mana saat ini penonton kita hanya disuguhi tontonan-tontonan yang hampir seragam.
blh tuh kbrin nak broadcasting djakarta…..teguh
BARU TAHU GW ADA UNTIRTA TV